Selasa, 04 November 2014

ASEAN Community


Sebenarnya ASEAN Community baru akan terbentuk nanti tahun 2020 tapi dari hasil KTT ke-12 ASEAN, disepakati pembentukan Komunitas ASEAN dari tahun 2020 dipercepat menjadi tahun 2015.

Kalau di Eropa istilah ASEAN Community 2015 ini seperti UNI Eropa lah,... tahu kan UNI Eropa? nah ya seperti itu, namun ini di kawasan Asia Tenggara. Jadi nanti pada tahun 2015 itu istilahnya organisasi ASEAN akan ber "integrasi" menjadi sebuah organisasi kawasan yang lebih solid dan maju, membangun kebersamaan untuk satu tujuan (satu visi, satu identitas, satu komunitas), mendorong terciptanya kekompakan, kesamaan visi satu tujuan, kesejahteraan bersama, dan saling peduli diantara Negara-Negara di Kawasan Asia Tenggara.


Membangun kebersamaan untuk satu tujuan mungkin itu tujuan  dari terbentuknya Komunitas ASEAN 2015 ini. Dimana visi dari ASEAN Community ini adalah tidak lain untuk meng integrasi Negara-Negara di ASEAN dalam mendorong terciptanya kekompakan, kesamaan visi satu tujuan, kesejahteraan bersama, dan saling peduli diantara Negara-Negara di Kawasan Asia Tenggara. 
  
Memang sulit untuk menyatukan semua elemen yang ada di dalam ruang lingkup ASEAN ini , dimana dengan berbagai kultur budaya dan masyarakat sosial diantara ke sepuluh Negara-Negara di Kawasan Asia Tenggara ini sulit untuk menyatu dan saling peduli diantara satu sama lainnya. Hanya sedikit kasus ditemui Negara di kawasan ASEAN ini bisa saling peduli dan kompak dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara dalam satu bingkai kesatuan yang dinamakan ASEAN. Kita contohkan saja masih banyak gesekan-gesekan dan persaingan ekonomi yang tidak sehat dikalangan Negara-Negara ASEAN ini mulai dari yang sering terjadi yaitu perselisihan mengenai patal batas wilayah kedua negara yang saling bertetangga sampai perebutan dan pengklaiman warisan budaya diantara kedua negara yang berselisih. Ini semua membuktikan bahwa Negara-Negara yang berada dalam bingkai ASEAN ini masih belum solid, belum menyamakan visi satu tujuan dan belum peduli pula terhadap satu sama lain.
Nah sedangkan dasar terbentuknya Komunitas ASEAN 2015 sendiri ditopang oleh tiga pilar utama yaitu:

1. Komunitas Politik dan Keamanan ASEAN
2. Komunitas Ekonomi ASEAN
3. Komunitas Sosial dan Budaya ASEAN

Dengan adanya dan terbentuknya Komunitas ASEAN 2015 ini diharapkan dapat menjawab semua tantangan dan permasalahan yang terjadi pada Negara-Negara yang tergabung dalam keanggotaan ASEAN ini. Dengan tiga pilar pentingnya yaitu ASEAN Political-Security Community , ASEAN Economic Community, dan ASEAN Socio-Cultural Community semoga bisa dapat membangun kebersamaan dalam ASEAN nantinya. Ditinjau dari ketiga pilar tersebut wajar halnya kalau kita sekalian bisa berharap banyak pada terbentuknya komunitas ASEAN 2015 ini, melihat dari segi fungsi dan aspek yang didukung, ketiga pilar ini sangat kompleks dan saling ber integrasi satu sama lainnya. Kita contohkan saja untuk ASEAN Political-Security Community dimana dibentuknya komunitas politik dan keamanan ini berfungsi penting untuk mempercepat kerjasama  politik dan keamanan pada Negara-Negara di kawasan Asia Tenggara untuk menunjang perdamaian dan stabilitas keamanan di ASEAN dan juga tidak menutup kemungkinan untuk kawasan luar ASEAN yaitu masyarakat Internasional. Ini masuk poin penting jika dikaitkan dengan keadaan sekarang di ASEAN dimana tingkat keamanan dan stabilitas perdamaian di Negara-Negara ASEAN ini lagi sedikit terganggu dimana sekarang masih ada negara yang berselisih untuk memeperebutkan sesuatu hal dan juga yang tidak kalah penting mengenai keamanan laut di selat malaka (Jalur perdangan Internasional) yang masih sering terjadi pula tindak kejahatan di laut baik itu perompak dan pembajakan kapal minyak. Dengan dibentuknya ASEAN Political-Security Community ini semoga bisa menjawab tantangan permasalahan yang ada.

Masuk pada pilar kedua mengenai ASEAN Economic Community dimana pilar kedua ini menitikberatkan pada aspek ekonomi pada Negara-Negara ASEAN, dimana kita ketahui bahwa persaingan pasar global di Eropa dan sekitarnya menjadikan Negara-Negara di kawasan ASEAN ini menjadi tidak berdaya dan tidak kompetitif dalam persaingan perdagangan di dunia Internasional. Negara-Negara ASEAN hanya dijadikan anak bawang dan dijadikan sebagai konsumen pembeli dari hasil produksi yang ada, ketidak berdayaan inilah yang dijadikan bangsa-bangsa maju di Eropa untuk lebih masuk lagi mencampuri urusan ekonomi Negara-Negara di kawasan ASEAN ini. Sungguh tidak baik untuk kemajuan dan perkembangan Negara tersebut dimana Negara itu harus bergantung dan terus berharap kepada negara penyuplai dan produsen besar di Eropa dan sekitarnya. Lantas kapan Negara-negara ini akan berkembang  dan bisa menjadi negara yang maju jika harus bergantung pada Negara lain untuk kesejahteraan masyarakatnya. Melihat fenomena diatas, kehadiran ASEAN Economic Community sedikit bisa membantu ketidak berdayaan Negara-Negara ASEAN dalam persaingan global ekonomi dunia yaitu dengan membentuk suatu pasar tunggal dan berbasis di dalam kawasan ASEAN sendiri, jadi Negara yang ada di kawasan ASEAN ini bisa membuat pasar ekonomi sendiri dalam kawasannya sendiri pula. Jadi kita tidak bergantung pada Negara-Negara di kawasan Eropa untuk meng ekspor hasil sumber daya yang kita miliki. Dan juga yang tidak kalah pentingnya atas keberadaan komunitas ekonomi ini ialah membentuk integrasi untuk kawasan-kawasan prioritas penting dalam perekonomian ASEAN guna menunjang kekuatan ASEAN dalam persaingan global ekonomi dunia. Jelas sekali menggunakan sumber daya manusi dari dalam ASEAN sendiri baik itu pelaku usaha, pelaku ekonomi, tenaga kerja kompeten dalam bidangnya masing-masing untuk menunjang kekuatan ekonomi ASEAN. 

Pilar ketiga juga tidak kalah pentingnya yaitu ASEAN Socio-Cultural Community bergerak dalam bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan, teknologi , lingkungan , kesehatan dan bidang-bidang sosial lainnya dimana keberadaan komunitas pilar ketiga ini nantinya bisa memperbaiki kerjasama Negara-Negara ASEAN dalam ruang lingkup bidang sosial untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Dengan ASEAN Socio-Cultural ini di harapkan ke depan bisa memperbaiki semua hal dan aspek masyarakat sosial di Kawasan Asia Tenggara khususnya, lebih-lebih masyarakat Internasioanal juga bisa merasakan efek positif dengan adanya komunitas masyarakat  ASEAN yang bisa membangun peradaban di Negaranya masing-masing.

Tujuan ASEAN Comunity

Tujuan dibentuknya "Komunitas Politik dan Keamanan ASEAN" ini bertujuan untuk mendorong dan mempercepat terbentuknya kerjasama dalam bidang politik dan keamanan di kawasan Asia Tenggara dan menciptakan kedamaian dan stabilitas keamanan di kawasan negara ASEAN.

Jadi dengan terbentuknya Komunitas Politik dan Keamanan ASEAN ini diharapkan bisa mengatasi segala permasalahan yang menyangkut masalah politik dan keamanan di negara ASEAN. Kita bisa ambil contoh kasus perselisihan tapal batas antara Indonesia dengan Malaysia misalnya blok ambalat yang diperselisihkan dulu. Dengan adanya Komunitas Politik dan Keamanan ASEAN ini maka diharapkan akan bisa menjawab permasalahan yang ada.

Keamanan laut misalnya, selat Malaka merupakan jalur perdagangan laut internasional yang sangat rawan sekali adanya kejahatan seperti pembajakan. Nah dengan dibentuknya Komunitas Politik dan Keamanan ASEAN ini pastinya akan bisa menjawab tantangan tersebut.

Tidak hanya itu saja, ancaman teroris juga menjadi isu yang sangat serius di kawasan ASEAN jadi diharapkan dengan adanya Komunitas Politik dan Keamanan ASEAN ini akan meminimalisir segala ancaman teroris dan sebagainya.

Indonesia Menuju ASEAN Economy Community

ASEAN dibentuk pada tahun 1967, hal ini bermula untuk menggalang kerjasama regional sebagai salah satu agenda yang perlu dikembangkan. Yang terdiri dari Negara-negara Asia Tenggara, alasan terbentuknya ASEAN yaitu untuk membentuk kerjasama dalam meredakan rasa saling curiga, membangun rasa saling percaya dan mendorong kerjasama pembangunan kawasan. Hal ini di tandai dengan penandatangan Deklarasi bangkok pada tanggal 8 agustus 1967 yang bertujuan. Kerjasamanya ekonomi di mulai dengan pembentukan ASEAN Economi Community. 

ASEAN Economic Community (AEC), telah disepakati oleh negara anggota ASEAN dalam Bali Concord II tahun 2003. AEC merupakan salah satu tujuan integrasi ekonomi regional pada tahun 2015. ASEAN Economic Community merupakan agenda bersama negara-negara ASEAN dengan tujuan menjadikan ASEAN sebagai: 1) pasar dan basis produksi tunggal, 2) kawasan ekonomi yang kompetitif, 3) wilayah pengembangan ekonomi yang merata, dan 4) daerah sepenuhnya terintegrasi ke dalam ekonomi global. Pada tahun 2015 memiliki masalah dan tantangan tersendiri bagi negara-negara Asia Tenggara.
Konsep Integrasi

Sebagai konsep integrasi ekonomi ASEAN, ASEAN Economic Comunity akan menjadi babak baru dimulainya hubungan antarnegara ASEAN sebagai single market dan single production base meliputi free trade area, penghilangan tarif perdagangan antar negara ASEAN, pasar tenaga kerja dan modal yang bebas, serta kemudahan arus keluar-masuk prosedur antarnegara ASEAN. Melalui ASEAN Econimic Comunity ini juga, ASEAN akan mengukuhkan ekonomi yang berbasis kesejahteraan.

Untuk mencapai semuanya itu, Indonesia harus mulai menyiapkan strategi apa yang dipakai agar mampu bersaing di pasar bebas nanti yang hanya sisa menghitung hari. Tentunya dibutuhkan kesadaran dari masing-masing pribadi apa yang akan dilakukan nanti agar mampu bersaing. Terutama bagi orang-orang yang memiliki kekuasaan bagaimana ia menuntun masyarakat-masyarakatnya agar mampu bersaing pada pasar bebas nanti dengan negara-negara Asia lainnya.
Strategi Strategi Yang Dipakai

Strategi-strategi yang bisa dipakai misalnya lebih meningkatkan pemeriksaan ekspor-impor secara bersih, perlunya stabilitas politik, pemerintah harus bersikap bersih jauh dari korupsi, ketertiban sosial, adanya inovasi teknologi dan ketersediaan infrakstruktur yang memadai. Dengan adanya strategi-strategi ini diharapkan pada 2015 nanti Indonesia tidak ketinggalan jauh karena indonesia memiliki banyak sumber daya alam yang bisa dimaanfaatkan. Namun untuk mencapai semuanya itu dibutuhkan juga sumber daya manusia yang ahli dalam bidang-bidang tertentu, meningkatkan pendidikan, dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada sebaik-baiknya sehingga meningkatkan pengelolaan produksi bahan baku agar masyarakat Indonesia memiliki standart kesejahteraan ekonomi yang memadai.

Kesiapan Indonesia Mengikuti ASEAN Community

Perlu menjadi perhatian kita, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan berlaku tahun depan. Indonesia sebagai salah satu anggota tentunya harus ikut mempersiapkan segalanya, karena yang terpenting adalah bagaimana negara kita sendiri bisa siap bersaing atau tidak dengan negara ASEAN lainnya. Indonesia tidak bisa menunda lagi proses konsolidasi perbankan. Pasalnya hal itu sudah dilakukan negara lain dalam 5 tahun terakhir dalam menghadapi MEA. Sejumlah bankir menyatakan, sepakat soal pentingnya konsolidasi perbankan di Tanah Air khususnya dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015.

Indonesia butuh bank yang besar dan kuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendorong ekonomi nasional agar tumbuh semakin tinggi. Konsolidasi ini juga dibutuhkan agar bank kita bisa menjadi pemain utama di dalam negeri dan ASEAN. Pengamat ekonomi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam mengatakan, konsolidasi perbankan penting untuk dilakukan demi meningkatkan daya saing perbankan nasional.

Direktur Utama Bank Mandiri Budi G Sadikin mengatakan konsolidasi perbankan sangat perlu dilakukan, hal ini tidak terlepas akan adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) untuk sektor perbankan.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia (Tbk) Jahja Setiaatmadja menilai, konsolidasi perbankan merupakan suatu kebutuhan yang mutlak dilakukan untuk memperkokoh industri perbankan Indonesia dalam menghadapi pasar regional maupun global, serta memudahkan pengawasan bagi pihak regulator.

Senada dengan Jahja, Direktur Utama Bank Ina Perdana, EdyKuntarjo, menilai, dorongan adanya konsolidasi perbankan terjadi karena regulator perbankan (Otoritas Jasa Keuangan) juga dihadapkan pada permasalahan globalisasi, kendati sejak adanya Arsitektur Perbankan Indonesia 2004, konsolidasi perbankan sudah dicoba diterapkan namun tidak berhasil.

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Lana Soelistyaningsih mengatakan, OJK harus mencari terobosan untuk konsolidasi perbankan nasional dalam menghadapi MEA 2015, “OJK sebaiknya tidak hanya mengimbau,” ujarnya.

Lana menepis anggapan proses konsolidasi perbankan sulit dilakukan, karena ini hanyalah persoalan bisnis semata. Agar konsolidasi perbankan nasional berjalan lancar, Lana menganjurkan agar OJK membuat iklim kompetisi industri perbankan semakin tinggi, sehingga bank tidak lagi dapat menerapkan bunga kredit tinggi.

 “OJK dapat membuat tingkat kompetisi perbankan menjadi lebih baik, ada banyak cara yang dapat dilakukan” lanjut dia.

Lana menambahkan, sektor perbankan di Indonesia masih mempunyai tantangan. Jika tantangan tersebut tidak diatasi maka akan membuat sektor perbankan di Indonesia kalah bersaing dengan bank asing. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diminta proaktif mendorong konsolidasi perbankan, seperti yang telah dilakukan Bank Indonesia (BI) sejak beberapa tahun lalu, bahkan peranan OJK diharapkan bisa lebih besar guna memperkuat struktur perbankan nasional.

Diangkatnya Chairul Tanjung (CT) menjadi Menko Perekonomian, menggantikan Hatta Rajasa, bisa jadi merupakan angin segar bagi Indonesia untuk kembali concern untuk mempersiapkan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). 

Latif Adam, pengamat ekonomi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan jika masa jabatan CT yang singkat memang tidak memungkinkan jika harus secepatnya ada realisasi konsolidasi perbankan. Namun demikian Latif menambahkan jika CT setidaknya dapat mengawal proses persiapan konsolidasi perbankan yang ada, seperti yang terjadi antara Bank Mandiri dan BTN. Proses persiapan itulah yang harus memenuhi syarat-syarat, sehingga menghasilkan suatu kebijakan publik.

Konsolidasi perbankan nasional sudah tidak dapat dihindari lagi. Kebijakan tersebut menjadi mutlak dalam menghadapi MEA. Jika tidak Indonesia mempersiapkan mulai dari sekarang, imbasnya akan terasa pada saat MEA nanti. Perbankan nasional akan kalah bersaing dengan perbangkan asing. Harapan kita mungkin tidak bisa diwujudkan pada masa pesta politik digelar. Namun, kita dapat terus mendorong dan mengingatkan calon pemerintah yang baru untuk mewujudkan konsolidasi perbankan nasional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar